Sampai Aku Menemukan Dia


Part. 2

By. DL

 

                Setiap sabtu Villia libur, dan hari ini Ia ingin sekali pergi ke sebuah toko buku mencari novel atau buku-buku yang lain. Jam 10 Villia telah bersiap-siap untuk berangkat tadinya Ia ingin mengajak mamanya pergi ke took buku, tapi Villia ingat mamanya harus pergi bekerja. Akhirnya, Villia memutuskan pergi ke took buku sendirian diantar oleh supirnya.

                Villia mengunjungi toko buku yang terletak di tengah kota Bandung. Villia segera naik tangga menuju ke llantai paling atas tempat novel-novel berada. Sampai disana Villia menuju deretan novel-novel remaja. Ia membaca synopsis dari novel-novel yang kelihatannya menarik. Saat memilih-milih novel Villia merasa ada seseorang yang memerhatikannya daritadi, seorang laki-laki.

                Setelah memilih 2 buah novel, Villia beralih menuju novel terjemahan. Saat melihat-lihat novel terjemahan, Villia merasa bingung harus memilih novel yang mana. Villia tidak tahu novel yang mana  yang isinya menarik. Seorang anak laki-laki menghampiri Villia yang terlihat bingung memilih-milih novel.

“daripada kamu bingung milih-milih novel terjemahan yang gak pasti kamu tahu ceritanya kaya apa mendig novel Indonesia aja.” Apanih orang? Tiba-tiba ngedatengin sksd. Villia menengokkan kepalanya kea rah orang yang mengajaknya bicara. Orang itu tersenyum pada Villia, tiba-tiba Villia terpaku sorot matanya tajam, lumayan, senyumnya juga manis.

Tanpa kata-kata Villian membalikkan wajahnya memilih-milih novel.

“Nih..” orang itu memberikan buku Negeri 5 Menara dan 5 Cm. “mending baca itu, karya orang-orang Indonesia labih bagus loh.”

Villia mengambil kedua buku yang disodorkan orang itu, kemudian orang itu membalikkan badan dan melangkah. “heh, kamu siapa sih?” orang itu membalikkan badan. Villia memerhatikan orang itu dari atas sampai bawah, tidak seperti biasanya Villia memerhatikan orang sedetail itu.

“Pram.”

“sini-sini.” Villia memerintahkan pram untuk mendekat.

“apa?”

“kamu daritadi merhatiin aku ya?” Villia memandang Pram menunngu jawaban, tapi Ia tak menjawab apapun. “tunggu-tunggu kayanya aku ko pernah liat kamu ya. Dimanaaaa gituuu.”

“kita emang satu sekolah, kamu aja yang kurang peduli sama lingkungan gak merhatiin yang ada di sekeliling kamu.” Nih cowok senaknya gitu nge-judge orang kurang peduli lingkungan.

“enak aja gak peduli lingkungan.” Villia  memasang wajah juteknya.

“aku bilang kurang, bukan enggak.” Resenya, baru ketemu ngeselin Villia menggerutu dalam hatinya.

“ooh.” Villia hanya menjawab itu lalu berjalan meninggalkan Pram menuju kassir untuk membayar buku-buku yang Ia ambil. Sampai kasir, tak disangka Pram masih mengikuti Villia. “ngapai ikut-ikut?”

“GR, aku mau bayar ko.” Pram menunjukkan sebuah buku yang akan dia beli. Villia menatap Pram dengan sinis. “buku yang aku rekomendasiin dibeli juga toh.”

Villia memandang buku yang Ia bawa, tapi Ia hanya diam.

                Setelah membayar buku, Villia dan Pram sama-sama keluar dari antrian kassir. Mereka berjalan meuju ke luar dari toko buku. Villia membuka inbox di HP-nya ternyata dari Pak Warsito, ternyata Pak Warsito tidak bisa menjemput Villia tepat waktu, karena Pak Warsito harus pulang dulu ke rumah. Villia memutuska menuju sebuah tempat makan.

                Sampai tempat makan Villia bingung harus membeli apa, Ia memutuskan membeli ice cream dulu. Sambil makan ice cream Villia membuka novel yang barusan Ia beli. Novel 5 CM yang pertama Ia buka, sebenarnya Ia sudah tahu lama kalau novel ini sudah ada, tapi Villia belm tertarik membelinya. Sekatang Ia tertarik membacanya, karena Pram.

“novel itu ternyata yang pertama dibuka?” Pram duduk di hadapan Villia dan itu cukup membuat Villia terkejut.

“eh, dikirain udah pulang, ngapain sih kamu disini? Nah, ketauan kan pasti ngkutin aku ya? Daritadi ada kamu terus.”

“ya kebetulan aja kali, akujuga kan laper pengen makan. Kenapa? Keberatan?”

“enggak sih, kebetulan aku sendiri aja.” Eh, kenapa aku malah baik ya?

“bagus deh.” Kenapa dia jadi baik sama aku ya? Pram bertanya-tanya dalam hati, tapi itu hanya disimpan dalam hatinya sendiri.

Villia dan Pram memilih menu yang sama, awalnya mereka berdebat kenapa harus memilih menu yang sama, tapi akhirnya mereka tetap memilih menu yang sama.

                Selesai makan Villia dan Pram keluar dari tempat makan. Villa melirik HP-nya, belum ada SMS yang masuk dari Pak Warsito. Dalam hati Villia brfikir, apa aku pulang sendiri aja ya daripada nunggu lama.

“pulang gimana?”

“eh, sendiri Pram.”

“tau jalan?”

“taulah, udah sana kalo udah mau pulang kamu pulang duluan aja” jalan sih tau, kendaraannya naik apa ya dari sini? Tadinya Villia ingin bertanya pada Pram, tapi Ia merasa malu.

“emang mau duluan ko, siapa yang mau nungguin kamu. Nah, daritadi katauan nih ke-GR-an mulu.”

“jangan copas deh. Sana!”

“iya, ati-ati ya kamu. Awas ada orang jahat yang mau nyulik kamu loh.” Pram meninggalkan Villia sendirian. Villia jadi takut sendiri harus pulang sendiri atau menunggu dijemput. Tapi Villia tetap memilih pulang sendiri.

                Saat menaiki angkot, Villia berharap angkot yang dinaikinya angkot yang benar. Setelah beberapa lama Villia turun di jalanan yang biasa Ia lewati jika pulang ke rumah. Dari situ Villia bingung harus naik angkot yang mana. Karena masih bingung Villia memutuskan jalan-jalan di daerah itu. Setelah beberapa lama berjalan Villia merasa jalanan itu asing, Ia merasa ingat sesuatu.

“Vi, kalo nanti kamu gak pulang sama papa jangan lewat jalanan ini ya. Papa denger jalanan ini bahaya suka banyak anak-anak jalanan yang jail. Apalagi kalo kamu naik kendaraan umum.”

Villia ingat perkataan papanya saat dulu sering mengantar-jemput Villia ke sekolah semasa SMP. Jantung Villia berdebar keras. Ia mencoba tenang kembali ke jalan utama saat Ia turun dari angkot yang pertama.