March 2013
8 posts
And ignite your bones
And I will try to fix you” —Fix You, Coldplay
- Seorang sosok wanita setengah baya datang memasuki sebuah rumah sederhana di daerah Cimahi Utara. Dengan yakinnya ia memasuki sebuah rumah bercat putih, yang kebetulan saat itu pintu utamanya terbuka.
- Ibu-ibu 1 : “Assalammualaikum!” (berjalan dari arah ruang tamu menuju ke ruang tengah, sambil tersenyum melewati seorang bapak-bapak yang hendak berjalan dari arah dapur.) “Punten pak.”
- Bapak-bapak : “Mangga…” (memerhatikan dengan bingung, siapa gerangan ibu-ibu yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kediamannya.)
- Ibu-ibu 1 : “mama (R/L)ia, mama (R/L)ia…” (ibu-ibu itu memanggil-manggil nama seseorang kedengarannya ia seperti memanggil nama Ria dengan keras kemudian seorang ibu-ibu menghampirinya di ruang tengah dengan penasaran.)
- Ibu-ibu 2 : “eeh, Riii… Riaaa” (memanggil anaknya, karena ibu-ibu 2 pikir ibu-ibu 1 mencari anaknya.)
- Kalau dipikir-pikir Ria itu memang benar nama saya tapi siapa juga yang nyari-nyari saya sampe langsung masuk ke dalam rumah. Yang kebayang dalam pikiran saya saat ibu-ibu 1 & 2 saling bertemu, pasti kaget. Pasti asing satu sama lain. Pasti ga kenal sama sekali. Kalo ibu-ibu 2 alias mama saya piker ibu-ibu 1 itu orangtua temen saya yang lagi cari saya, pikiran ibi-ibu 1 apa yaa? Kalo saya, jelas bingung orangtua siapapulah lah gerangan ini? Mari lanjut…
- Ibu-ibu 2 (mama) : “eeh siapa yaa?” (kedengerannya sih kaget.)
- Ibu-ibu 1 : “mau cari mama Lia. Mana ya mama Lia?” (ternyata mau cari mama Lia, bukan Ria.)
- Mama : “haa? Ibu siapa yaa? Darimana bu?” (mama pasti kaget yaa.)
- Ibu-ibu 1 : “eeh ini teh rumah pak *tuuut* kan?” (kedengerannya sih itu ibu-ibu nyebut nama tetangga sebelah.)
- Mama : “ooh bu, pak *tuuut* di sebelah rumahnya bukan ini bu.”
- Ibu-ibu 1 : “alaah, punten pisan nya bu nyaa. Abdi teh ti Tasik, mau ketemu mama Lia. Dikirain teh yang ini rumahnya, makanya langsung masuk. Aduuuh, punten pisan nya bu. Punten pisan, maaf.”
- Mama : “oiya bu iya, gapapa. Rumahnya yang di sebelah ini ya bu ya.”
- Oooh, ternyata! Ibu-ibu itu salah rumah. Dengan wajah masih bingung dan aneh warga rumah melanjutkan aktivitasnya kembali. Kaget juga tuh heran kenapa bisa ya nyasar main masuk ke rumah, padahal kalo nanya dulu kan jadi ga salah sebelum masuk ke dalem rumah oranglain.
February 2013
2 posts
Papa : “ma, gula batunya mana ya?”
Mama : “tuh paa.” (nunjuk ke suatu sisi, gatau kemana)
Papa : “gula batu tuh lama-lama kalo diminum makin manis, makin manis.”
Mama : “iya”
Papa : “itu kan sebenernya ada filsafatnya, hidup itu mulainya dari pait lama-lama jadi manis.”
October 2012
1 post
marah, kesel, sedih, bahagia, bimbang, serba salah, pusing, galau, bangga…
panas, hujan, cerah, mendung…
pagi, siang, sore, malem…
detik, menit, jam, hari, bulan, tahun…
di saat itulah aku mengenang segalanya, segala yang telah aku alami
aku tersadar dari lamunan panjang banyak hal yang telah terjadi
awalnya aku berfikir melakukan segala hal hanya sendirian
tapi ternyata banyak tokoh tokoh yang mengisi film kehidupan ini
mereka yang memberi banyak pelajaran
mereka yang memberi banyak kenangan
kenangan buruk
kenangan indah
baik buruk maupun indah semuanya sama-sama berakhir menjadi kenangan yang indah, yang akan selalu membekas
hanya ucapan ‘terimakasih’-lah yang terangkai dalam pikiran ini untuk semua orang yang telah merangkaikan banyak cerita dalam kehidupan ini
mungkin, tidak banyak orang peduli dengan keadaan ini
tapi, tidak sedikit juga yang peduli dengan keadaan ini
dan, yakinkan pasti ada yang peduli dengan keadaan ini
merekalah yang patut menerima perhatian, karena merekalah yang menjadikan semuanya tidak terasa seperti hal yang sia-sia
terimakasih untuk semuanya, untuk semua orang yg ga mungkin untuk disebutin satu-satu
July 2012
1 post
May 2012
1 post
Kamis, 3 Mei 2012
Hari ini pulang ga kaya biasanya(tapi tetep naik angkot), biasanya pulang lewat padjajaran->garuda->cibeureum->cimahi->…… Pas hari ini pulang bareng Au lewat Gerlong. Nah, kita dari sekolah jalan dulu lewat lintas husein(ga lewat citepus kaya biasanya). Dari sekolah sekitar jam 5-an. Setelah itu kita naek angkot lembang-ciroyom. Selama perjalanan hujan gede banget.
Di perjalanan kita ngobrol ngobrol cerita sambil ketawa gitu. Sampe daerah Sarijadi(kalo gasalah) kita ngobrol tentang pohon tumbang gitu, kebetulan di jalan yang kita lewatin lagi banyak pepohonan.
Audita : “Ri, kalo ada pohon tumbang gimana ya?”
Aku : “iyaya dit, waktu pas smp aku pulang juga ada yang bilang ujan gede terus ada pohon tumbang gitu tapi itu daerah mana gitu.”
Audita : “ada kendaraan yang kejatuhan pohon?”
Aku : “engga sih.”
Audita : “seremlah”
Aku : “heueuh.”
Tiba-tiba
Bletok (bunyi mobil kejatuhan sesuatu di bagian atas
Aku&Audita : (kita kaget banget, posisi duduk kita ada di pojok kita langsung noleh ke depan)
Penumpang lain : (ekspresinya pada kaget juga, ada 6 penumpang lain semuanya perempuan.)
Sopir angkot : “naon eta?” (sambil noleh ke belakang, liat ke atas mobil yang bunyi)
Dan untungnya, itu bukan pohon yang nibanin angkot yang lagi ditumpangi kita. Itu Cuma ranting pohon yang lumayan gede dan bikin kaget penumpang yang ada di dalam angkot. Kita kaget banget, lagi ngomongin pohon tumbang ada bunyi keras, untung bukan pohon.
Aku : “aku kira dit, poho untung ajaaa.”
Audita : “iya Ri ih, serem aja kalo itu pohon.” (Audita nunduk liat ke bawah.)
Aku : (ngerasa ada yang basah)
Audita : “Ri, liat geura!” (Au nunduk maksudnya nunjukin ke bagian bawah kaca mobil belakang) “bocor laaah.”
Aku : “iyalah dit, pantesan kaki aku asa basah.”
Aku&Audita : (geser tempat duduk)
Aku : “yaampun dit, kenapa ya tadi kaget gara gara bunyi ranting jatoh. Sekarang kebocoran diangkot.”
Audita : “iya Ri, mana….” (Au liat ke bawah lagi) “tiap ngerem terus jalan pasti airnya bocor dari atas nyipretnya ke sini lagi.”
Aku : “kagok basahlah”
Byuuuurr (motor lewat sebelah kiri angkot, lumayan kenceng sampe airnya masuk.)
Penumpang lain : “aduuuuh.” [penumpang yang kecipratan, duduk depan pintu]
Aku : “kita gak kecipratan, tapi duduk di ujung sini kebocoran.”
Sampe stopan gerlong aku turun(Audita lanjut sampe Lembang) hujan masih gede banget tadinya mau neduh, tapi daripada kelamaan mending pake paying jalan nerobos hujan cari angkot.
Setelah dapet angkot, duduk, lipet payung, denger adzan magrib, hujan berenti. Kenapa ujannya ga berenti daritadi biar ga kebasahan.
Jumat, 4 Mei 2012
Pulang sekolah tadi sekitar jam 1 dari sekolah. Tadi ga lagsung pulang ke rumah, ada janji sama Khalida di bip. Sampe bip langsung masuk ke dalem.
Pas naik escalator pertama ada ibu ibu naik escalator duluan. Pas dia naik escalator, di sebelah escalator itu ada baju digantung(dipajang). Ibu-ibu itu kayaknya mau liat baju itu tapi udah keburu naik escalator duluan, sambil naik escalator sambil megang baju juga. Ibu-ibu hampir mau jatoh deh gara-gara naik escalator sambil megang baju dyang dipajang itu. (Kejadian ini rada pengen ketawa)
Sampe foodcourt, Khalida udah nungguin di situ. Kita langsung mulai sesi cerita-ceritanya. Sekita jam setengah 4 kita pindah tempat ke McD buat beli icecream(doing) terus kita duduk di situ sampe jam 4.
Jam 4, kita pulang tapi ke toilet dulu. Masuk ke toilet, di dalem toilet ada mba-mba gitu nunggu toilet. Aku liat memang semua toilet ketutup. Mba-mbanya nahan pipis gitu, kaya yang udah kebelet banget. Toilet pertama deket pintu keluar kebuka. Mba-mba mempersilakan masuk duluan, tapi aku biarin dia masuk lebih dulu keliatan udah ga tahan. Aku merhatiin toilet yang lain ga kebuka-buka, gaada bayangan orangnya di 3 toilet yang tersisa. 3 toilet itu kaya ga ada orangnya.
Terus ada mba-mba yang lain masuk ke dalem, ngecek setiap toilet. Toilet pertama yang deket pintu ada orang, yang kedua kebua(gaada orang). Ternyata, 3 toilet yang lain kosong. Terus, kenapa mba-mba yang kebelet tadi ga masuk ke toilet yang lain? Atau karena mikirnya toilet yang lain ada orangnya? Padahal engga kan. Dan kenapa aku kepengaruh sama mba-mba yang kebelet pipis itu buat nunggu toilet yang padahal kosong. Yaampun, hari ini kaya orang linglung.
Sabtu, 5 Mei 2012
NDC sama les matematika sama sama jam 8 pagi. Baru berangkat dari rumah jam 8 lebih, sampe sekolah telat buat ikut NDC ataupun les matematika. Diputusin buat ikut NDC aja, lagian les matematikanya selesai lebih dulu daripada NDC berarti udah telat banget. Selesai NDC nemenin Audita makan nasi goreng deket sekolah.
Pas nemenin Audita makan bertiga bareng Ima, nge-sms Dita hari ini jadi atau engga ke SWAT (bazar SMP 5 Bandung). Kita (aku&Dita) sms janjian di SMP 5 nya, kita udah setuju. Beberapa lama baru inget, ada sesuatu yang ngeganjel. Ada sesuatu yang kurang, gara gara berangkat ke sekolah buru buru.
Ternyata, ga bawa uang lebih ke sekolah gara gara berangkat buru-buru ke sekolah uangnya masih ada ada di rumah alis ketinggalan. Untung aja masih ada ongkos buat balik sama bayar es dawet. Akhirnya, ke SWAT ga jadi dan minta maaf ke Dita karena janjinya dibatalin. Hehehe maaf ya Dit.
April 2012
31 posts
- Y : "ini orang kenapa sih?"
- Z : "kepo lu"
- Y : "idih, gr lu siapa juga yang nanyain elu"
- Z : (pasang wajah malas)
- Y : "eh iyasih emang kamu kenapa, kayanya di dunia maya curhat mulu. galau?"
- Z : (menggelengkan kepala dengan mantap tanpa jawaban) "enggak"
- Y : "tapi itu galauan semua lho isinya..."
- Z : "ya terus? ga boleh?"
- Y : (diam)
- Z : "tuhkan diem, kepo.'
- Y : "iyadeh emangemang, emang kepo."
- Z : "lu stalker ya? ko bisa tau isinya galauan buatan gue."
- Y : "eeeeeeuh, "(salting)
- Z : (memasang wajah penuh tanya, mengerutkan kening) "apa?"
- Y : "abis kaya yang mencurahkan isi hati seseorang yang lagi galau."
- Z : "ga galau, cuma pengen ngebacot ga jelas aja ko. emang kenapa sih? ga boleh ya ngebacot kaya orang galau?
- Y : "abis kaya yang galau beneran, ngaku deh lagi galau kan? galau garagara jomblo?"
- Z : "jomblo, bukan alasan untuk galau. dunia maya kadang buka sebuah tempat yang benar-benar memperlihatkan perasaan seseorang yang sebenarnya."
- Y : (manggut-manggut) "kalo ada orang yang liat kamu galau, terus orangnya yang ga kenal kamu mikirnya, pasti kamu tuh galau."
- Z : "makanya, kenalan biar tau jangan nge-judge apa apa dulu sebelum kenal.'
- tiba-tiba hening sesaat......
- Z : "emang lu udah kenal sama gue?"
- Y : "belon...."
- Z : "nah, yang kaya ginilah contohnya. yang belom kenal tapi udah ngejudge duluan." (geleng-geleng)
- Y : "yaudah sekarang kenalan deh, biar saling tau hehehe..."
- #garing
Part. 3
By. DL
Tiba-tiba saat berjalan ada seseorang menarik tasnya dari belakang sampai Villia jatuh ke belakang.
“hey, apa-apaan nih?” Villia bangun.
“kamu udah lewatin jalan yang salah, jadi harus bayar.”
“enggak” Villia mencoba berlari sekencang mungkin, melewati jalanan kecil yang tidak Ia kenal. Lalu ada sebuah tangan menariknya dan menutup mulutnya.
“sssssttt…” Villia seperti mengenali suara itu. “ ayo lewat sini Vi.” Pram menuntun Villia melewati jalanan kecil itu menuju jalan raya.
“makasih, makasih, makasih banyak Pram. Untung kamu lewat. Kebetulan banget ya.”
“iya iya sama sama Vi.” Pram tersenyum, ini semua bukan Cuma kebetulan. Tiada hentinya Villia mengucap terimakasih sambil mengayun-ayunkan tangan Pram.
“Pram itu tadi pengalaman banget, aku gak akan lewat jalanan tadi lagi. Aduh, yaampun.”
“sekarang naik, nih pake” Pram menyerahkan helm pada Villia. “aku anter sampe rumah, jangan sampe ada yang ganggu kamu lagi.
“tapi Pram, gaperlu sampe rumah nanti mama marah.” Ups, apa yang omongin sih. Villia keceplosan sesuatu.
“memang mama kamu marah kenapa? Karena aku yang anter?” Villia cuma menggeleng kaku. Pikiran Villia melayang memikirkan hal yang lain.
“kenapa kalian harus pisah? Ma kenapa ma?”
“mama udah gak bisa sama papa kamu Vi, lakilaki Cuma bisa nyakitin aja.”
“tapi kan ma,”
“mama pusing Vi, kita omongin nanti aja ya.
Sejak itu mama selalu menceramahi Villia tentang teman-teman dekatnya terutama laki-laki. Itu sebabnya Villia tidak pernah menceritakan apa-apa tentang Syahrir.
Pram menepuk pundak Villia pelan, Villia langsung kaget.
“aku yang hadapin mama kamu, tenang aja ya. Ayo naik!”
Sesampainya di rumah, mama Villia menunggu di teras. Wajahnya terlihat sangat khawatir menunggu anak satu-satunya belum pulang. Saat mendengar suara motor, wajah mama Villia langsung berubah bigung. Motor Pram berhenti di depan rumah Villia.
“makasih Pram, tapi….” Villia terdiam sesaat “maaf ya maaf banget, aku gak bisa ngajak kamu masuk. Kamu tau kan kenapa.” Selama perjalanan Villia hampir menceritakan semua tentang mama dan papanya yang bercerai, sampai Pram mengendarai motor cukup pelan karena ingin mendengarkan cerita Villia. Mereka baru sampai rumah Villia magrib.
“Vi, itu siapa temennya?” Villia dan Pram saling berpandangan mendengar suara mama Villia dari dalam rumah.
“masuk sana, aku duluan ya.” Pram tersenyum, lalu memakai helm-nya.
“ajak masuk Vi temennya.” Villia sangat kaget mamanya telah berdiri di sampingnya. Pram yang tadinya men-starter motor langsung mematikannya dan membuka helm. “ayo masuk, magrib-magrib jangan di jalanan.”
“ii…iya tente.” Pram tersenyum, lalu mencium tangan mama Villia. Mama Villia merangkul Pram, Villia hanya mengikuti mereka dari belakang sambil geleng-geleng kepala.
Setelah solat Magrib, Pram diajak makan oleh mama dan Villia. Awalnya, Pram tidak mau tapi karena dibujuk akhirnya Pram makan di rumah Villia.
“makasih ya Pram udah nganterin Villia.” Mama Villia mengatakan itu saat merekka makan
“sama-sama tante.” Pram tersenyum lebar. Villia ingin menceritakan kejadian yang dialaminya tadi saat Ia di ganggu, tapi Villia memutuskan untuk menceritakannya nanti saja. Villia takut akan dimarahi mamanya di depan Pram.
Selesai makan Pram berpamitan untuk pulang sebelum hari semakin gelap. Saat keluar rumah, diluar gerimis. Mama Villia takut kalu nanti akan hujan besar.
“Pram, sebentar ya.” Mumah.ama Villia masuk ke dalam rumah meninggalkan Pram dan Villia di teras r
“Vi, mama kamu baik tuh.”
“akujuga bingung pram.” Tak lama mamaya keluar dari dalam rumah.
“nih pake jaket parasit ini ya, jaket kamu kan gak anti air. Kamu dobel aja jaketnya biar gak kedinginan ya.” Villia sedikit melotot karena kaget melihat jaket papa ternyata yang diberikan pada Pram.
“eh, iya tante. Makasih tante, padahal gak perlu repot-repot loh tan.” Pram memakai jaket yang diberikan mama Villia. Lalu berpamitan.
Setelah Pram pulang, Villia menceritakan semua yang terjadi tadi pada mamanya. Villia merasa keajaiban dating, mamanya tidak marah.
“mama seneng ko kamu dapetin laki-laki seperti itu.”
Villia benar-benar gemas dengan mamanya, sejak tadi menceritakan semuanya Villia tidak mengatakan Pram adalah pacarnya. Mamanya malah mengambil kesimpulan sendiri.
“ma, Pram bukan pacar Villia.”
“baru teman kan, berarti belum.” Mamanya focus kembali dengan sinetron yang ditontonnya. Teman? Teman juga baru kanal tadi, walaupun kita satu sekolah. Pacar? Belum? Otak Villia terasa pusing dipenuhi pertanyaan.
Saat tengah malam, Villia belum juga tidur sedangkan mamanya sudah tidur daritadi. Villia hanya tidur-tiduran di kamarnya manikamati hawa dingin sambil mendengarkan rintik-rintik suara hujan. Malam itu Zahra, Yevi, dan Vania belum juga tidur. Villia langsung menceritakan segalanya pada mareka. Dan saat pukul 2 malam, Villia merasa sendirian Ia melirik HP-nya yang berbunyi. SMS dari….Pram?
—
Setelah beberapa lama, setelah kejadian pada hari sabtu itu berlalu, Villia tahu siapa yang dimaksud Syahrir ada seseorang yang ingin menyampaikan salam. Orang yang dimaksud Syahrir adalah Pram. Waktu itu, Villia sedang membaca SMS di HP-nya Ia tidak memperdulikan siapa yang ditunjuk Syahrir. Saat itu Pram berada di lapangan sedang memerhatikan Villia, tapi Villia kelihatan tak acuh kepadanya. Pram pikir Ia tak akan pernah mengenal Villia, tapi sekarang Pram telah mengenal Villia dekat.
—
“Bro, yang lagi galau!” Dug!
Sebuah bola meluncur menghantam kepala Syahrir. Syahrir melirik ke arah orang yang melempar bola itu.
“lupain ajalah jangan galau, ikhlasin dia buat sahabat kita.” Dava merangkul Syahrir.
Syahrir tersenyum pada Dava “iya Va, lagian Pram itu lebih duluan suka sama Villia. Pram juga lebih pantes buat Villia.”
“nah gitu dong,” Dava mengaca-acak rambut sahabatnya itu. “sekarang kita main.” Dava melemparkan bola basket pada Syahrir.
Saat bermain basket, Syahrir masih terngiang-ngiang sebuah kalimat.
“terimakasih, kamu nunjukkin semuanya sampai sekarang…aku menemukan dia, itu hal terbaik dari kamu”
Sebuah kalimat yang terlontar dari orang yang disukainya, terimaksih juga Vi, kamu memberikan hal yang terbaik juga, menjadi seseorang yang bisa aku sukai.
Syahrir men-shoot sebuah bola, dan masuk ke ring.